Malam kian bersenyawa dengan dingin tambah lagi buih-buih bintang di angkasa dan bulan sabit yang tersenyum lirih. Cahaya lampu jalan terang namun senyap. Angin menyayat dinding-dinding rumah dan sempat mengendap ke dalam kamar. Banyak juga mimpi yang ditabur, tapi lelaki muda duduk di teras memandang jalan yang sepi.
Lelap nya di renggut paksa sejumlah perasaan dan pikiran yang mengganggu benaknya. Secangkir kopi hangat di seruputnya perlahan, sebentar berdecah " Ah … ",
" Kenapa tak kunjung sirna itu gundah, seringkali merasuk dalam keheningan malam? "
" Kenapa tak juga hilang itu rindu yang selalu saja membawaku pada satu wajah "
Dari radio tape di dalam kamar suara saluang mengalun pelan menyanyikan lagu-lagu paling melankolis yang pernah terdengar di jagad nusantara, Laksana blues yang meratap dari petikan gitar para budak negro, begitu pula tiupan saluang di malam itu. Lelaki muda menatap jauh ke angkasa menerobos awan mungkin disana tertulis jelas semua jawaban dari pertanyaan.
Di seruputnya lagi sisa kopi di cangkirnya, sementara saluang masih saja mangalun. Butuh kejelasan tuk hilangkan gundah itu, butuh keyakinan untuk hilangkan rindu itu. Di balik itu semua butuh waktu untuk membuatnya tenang dalam ruang hati.