Archive for January, 2007

Gibran VS Tagore

Monday, January 29th, 2007

Dulu gw suka karya-karya gibran yang sangat-sangat romantis mungkin pengaruh usia barang kali. Waktu itu waktu masih SMA gw pertama kali baca tuh tulisan gibran dalam sebuah buku yang berjudul SANG NABI dalam edisi cetakan stensilan.. ( well jenis cetakan apa lagi yang bisa dibeli oleh anak SMA yang sering bokek ) Seketika gw langsung terpesona sama untaian kata-katanya pada tulisan-tulisan itu, sering memberi pengaruh bagi coretan-coretan gw di buku tulis gw yang sering kosong karena malas nyatat pelajaran. Nggak hanya Sang Nabi yang gua baca tulisan-tulisan berikutnya juga gw lahap dari yang berjudul " Di depan singgasan kecantikan" sampai " Lagu Gelombang ". Nggak berapa lama gw ketemu dengan penulis lain setelah berkelana dari tulisan KAFKA, MOTINGGO BUSYE, dan sebagainya akhirnya gw ketemu dengan RABINDRANTH TAGORE  beruntung waktu itu aku langsung berkenalan dengan sebuah masterpiecenya    yang berjudul  GITANJALI  dan untungnya lagi kali ini gw punya buku GITANJALI itu bukan dalam edisi stensilan melainkan buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit besar indonesia… Kalau waktu kenal GIBRAN romantisme gw dibakar maka ketika ketemu GITANJALI semangat spiritualisme gw menggelora… gw kagum sama tulisan TAGORE yang berjudul GITANJALI itu yang kalau di indonesiakan sih kira-kira artinya " kidung persembahan ". Di dalam GITANJALI itu tampak banget bahwa sanga tokoh begitu akrab nya berhubungan dengan dewa-dewa nya lebih dari hubungan hamba dengan dewa. Gw jadi mikir abis baca buku itu kenapa TAGORE yang notabene adalah seorang hindu dengan banyak dewa masih bisa berakrab-akrab ria dengan dewa-dewanya, tapi kenapa gw yang punya satu tuhan yaitu ALLAH nggak bisa berakrab-akrab ria…. ( buku itu nyentil gw banget tau" ). 

Sekarang gw masih mengidolakan TAGORE sebagai seorang penulis hebat dalam esai-esai melebihi kekaguman gw pada GIBRAN. simplenya sih gaya bahasa GIBRAN itu terlalu indah tapi rumit … tapi TAGORE gaya bahasanya sederhan namun sangat dalam…

APATIS

Monday, January 15th, 2007

Yah… semua punya hak koq untuk menyampaikan segala yang dirasa ataupun yang difikirkan tentang apapun. Tapi ketika ini menyangkut orang alangkah lebih baik  sebelum menilai ataupun mengkritik apa yang tak kita sukai  kita lihat sadari apakah hal ini sangat prinsipil atau hanya masalah perbedaan paradigma kita. Satu hal lagi yang lebih baik diyakini  bahwa pada saat kita mencoba menilai orang lain biasanya kita banyak menggunakan standar yang ada pada kita dan bahayanya ini jadi begitu subyektif dan seolah kita lebih dari pada yang lain.   Kecuali kita bisa sangat obyektifnya dalam menilai orang lain alangkah lebih baiknya ketika kita tak menilainya atau bahkan mengkritisi apa yang ada padanya. Terakhir yang mungkin perlu untuk disadari bahwa pada dasarnya apa yang kita kira jelek baginya ternyata bisa sangat bagus bagi orang itu. Ah siapa yang tahu rahasia itu.

Orang boleh bilang apapun tentang kita, tapi siapa peduli? Toh kita nggak wajib menanggapinya koq. Kecuali keabsahannya bisa dipertanggung jawabkan secara tepat. 

" Apapun yang kalian kira, kalian pikir tentang aku, aku nggak peduli karena AKU adalah AKU "

Aku diam menatap Elang

Monday, January 15th, 2007

Aku diam menatap elang itu bersiap terbang keatas padahal kukira dia hendak hinggap di satu dahan tapi apa yang menyebabkan dia urung?. Aku masih menduganya mungkin angkasa masih menyediakan cinta yang lebih besar kepada elang ketimbang dahan-dahan pohon yang akarnya menghujam bumi,ataukah di dahan itu dia merasa akan menemukan kenangan lama akan luka2 yang coba dia lupakan?

Saturday, January 13th, 2007

Tetap melangkah ditengah getir dan luka!!!!

Albert Camus

Thursday, January 4th, 2007

Benar kata Camus yang bilang bahwa lebih baik dia meyakini tuhan itu ada dan ketika dia mati ternyata tuhan tidak ada ketimbang dia meyakini tuhan nggak ada ternyata pas dia mati tahu-tahu tuhan benar-benar ada. Mestinya Sartre mau berfikir sesimple ni aja sehingga nggak usah menghabiskan sepanjang umurnya hingga maut menjemputnya hanya untuk mencari pembenaran terhadap eksistensi ateistiknya. Demikian juga dengan Friedrich Nietzche nggak usah pakai cuap-cuap ekstrim hingga bilang " Tuhan telah mati ". Heran? kenapa sebagian kaum filsuf yang mestinya lebih bijak malah jadi keblinger gini.